Perkuat Komitmen Pemkab Banyuasin Eliminasi TBC Lewat Desa Siaga dan Digitalisasi Layanan.

 

Pangkalan Balai — Pemerintah Kabupaten Banyuasin terus memperkuat komitmennya dalam memutus mata rantai penularan Tuberkulosis (TBC) melalui inovasi berbasis desa dan pemanfaatan teknologi digital, sebagai bagian dari percepatan pencapaian target Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis.

Penegasan komitmen ini juga disampaikan dalam kegiatan Zoom Meeting Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah (Rakorpusda) Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI, diikuti oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin, Ir. Erwin Ibrahim, S.T., M.M., M.B.A., IPU., ASEAN Eng bersama Dinas Kesehatan Banyuasin dan perwakilan OPD, bertempat di Ruang Rapat Rumah Dinas Sekda Banyuasin, Selasa (7/4).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Desa Siaga TBC yang telah diresmikan pada 27 November 2025. Hingga saat ini, sebanyak 186 dari total 288 desa di Banyuasin telah menyatakan kesiapan menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan pendampingan pengobatan pasien TBC di tingkat desa.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Banyuasin juga mengembangkan inovasi digital SERAMBE (Sistem Informasi Berbasis Elektronik) yang berfungsi sebagai platform pemantauan dan pelaporan kasus TBC secara real-time. Melalui sistem ini, pengambilan kebijakan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

Upaya penanggulangan TBC juga diperkuat melalui optimalisasi pemanfaatan Dana Desa sesuai Peraturan Bupati Nomor 88 Tahun 2019, yang diarahkan untuk mendukung program kesehatan masyarakat, termasuk penanggulangan Penyakit Penyerta seperti AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (PP-ATM). Program ini mencakup pembinaan kesehatan masyarakat, pengelolaan Posyandu, serta penyediaan layanan kesehatan dasar di desa.

Tidak hanya itu, sinergi lintas sektor terus diperkuat dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), hingga BPJS dan kader kesehatan desa. Dukungan yang diberikan antara lain dalam bentuk pemenuhan kebutuhan nutrisi serta bantuan ekonomi bagi pasien TBC selama masa pengobatan.

Berdasarkan data pelayanan kesehatan, capaian penanggulangan TBC di Banyuasin menunjukkan tren yang positif. Pada tahun 2024, realisasi pengobatan mencapai 4.279 kasus dari target 4.027 atau melampaui 100 persen. Sementara pada tahun 2025, tercatat 1.853 kasus dengan tingkat keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) sebesar 90,19 persen. Untuk tahun 2026, ditargetkan penemuan 16.090 kasus dengan keberhasilan pengobatan sebanyak 2.977 pasien.

Sekretaris Daerah Banyuasin, Ir. Erwin Ibrahim, S.T., M.M., M.B.A., IPU., ASEAN Eng, menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan TBC sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak.

“Penanggulangan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan pendekatan terpadu serta dukungan inovasi seperti Desa Siaga TBC dan SERAMBE, kami optimis target eliminasi TBC dapat tercapai,” ujarnya.

Dengan luas wilayah mencapai 11.832,99 km² serta kondisi geografis yang didominasi perairan dan rawa, inovasi berbasis digital dan pemberdayaan masyarakat desa menjadi kunci utama keberhasilan program ini.

Melalui berbagai langkah strategis tersebut, Kabupaten Banyuasin terus menunjukkan komitmennya sebagai salah satu daerah dengan praktik terbaik dalam pengendalian TBC berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan.(BUD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *